828

Latest Posts

  • Telaah Kritis- Target Empat Juta Sapi... 2017-02-03 00:06:37 Akhir-akhir ini masyarakat peternakan dihebohkan dengan program pemerintah yang bernama ”UPSUS SIWAB”. Program apa lagi  tuh  ? Apa karena...
  • OPINI: Ada Apa di Balik Judicial... 2017-02-01 10:43:23 Bisnis impor daging memang menggiurkan, Indonesia dengan penduduk sekitar 250 juta merupakan pangsa pasar daging sapi terbesar di Asia...
  • Tempat Peternakan Sapi Terbaik di... 2016-10-10 16:21:34 Kementerian Pertanian percaya bahwa Indonesia adalah tempat terbaik di dunia untuk melakukan peternakan sapi, dari mulai pembiakan hingga...
  • Ketahui Kebuntingan Dini Ternak... 2016-08-30 22:33:26   Prof. Dr. I Komang Wiarsa Sardjana, drh, ketika menyampaikan orasinya dihadapan para undangan pengukuhan guru besar, sabtu (27/8). (Foto:...
  • Jokowi Kaget Ada Domba Seharga Rp 60... 2016-08-27 12:50:50 BOGOR, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo menghadiri acara "Kontes Domba Garut dan Piala Kambing Kemerdekaan" di halaman Kebun Raya Bogor,...
view all

Notice: Undefined index: pl_a_path in /home/progo828/public_html/modules/plblog/frontent/controllers/DetailsController.php on line 35

Notice: Undefined index: pl_a_name in /home/progo828/public_html/modules/plblog/frontent/controllers/DetailsController.php on line 36

Notice: Undefined variable: cookie in /home/progo828/public_html/modules/plblog/frontent/controllers/DetailsController.php on line 433

Notice: Trying to get property of non-object in /home/progo828/public_html/modules/plblog/frontent/controllers/DetailsController.php on line 433

Telaah Kritis- Target Empat Juta Sapi Wajib Bunting

0 Comment
2017-02-03 00:06:37
 

Akhir-akhir ini masyarakat peternakan dihebohkan dengan program pemerintah yang bernama ”UPSUS SIWAB”. Program apa lagi tuh ? Apa karena ganti pejabat langsung ganti program?
Tidak usah heran, masyarakat sudah terbiasa dengan perubahan program prioritas tatkala terjadi pergantian pejabat. Demikian halnya di lingkungan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) , saat ini pemerintah gencar mengkampanyekan Upsus Siwab ,  kepanjangan dari Upaya khusus Sapi Indukan Wajib Bunting.   Namanya lumayan serem. Saya bayangkan, jika petugas pemerintah melihat sapi indukan di suatu tempat tidak bunting, ia langsung bertindak agar segera bunting. Peternak yang membiarkan sapi indukannya tidak bunting, akan mendapat sanksi. Begitukah ?


Soal Nama Program
Ngomong-ngomong soal nama, pandangan saya nama Upsus Siwab  kurang enak didengar dan cukup menyulitkan untuk dihafal. Padahal mestinya generasi sekarang lebih kreatif menciptakkan nama dibanding pejabat era orde baru.
Kira-kira 20 tahun lalu Dirjen Peternakan Drh Soehadji sangat kreatif membuat nama program. Ketika tahun 1991 terjadi kekeringan yang cukup panjang hingga banyak  ternak kesulitan pakan, Dirjen mengadakan operasi Penanggulangan Dampak Kekeringan, disingkat Operasi Pendekar. Ada lagi program bernama Gerbang Serba Bisa (Gerakan Pembangunan Sentra Perbibitan Pedesaan). Ada juga program Industri Peternakan Rakyat, disingkat Innayat. Masih banyak nama program yang kreatif dan cepat memasyarakat.
Saya bayangkan jika Dirjen Soehadji mengadakan program sapi induk wajib bunting, mungkin namanya lebih menarik, misalnya, Program Si Induk Wajib  Beranak, disingkat Prosina, atau Gerakan Sapi Indukan Wajib Bunting dan Beranak, disingkat Gerakan Si Bunda.
Apapun nama program pemerintah selalu saja ada yang berkomentar sinis dan pesimis, ada juga yang positif dan optimis, layaknya kisah yang tertulis di buku “Rich Dad & Poor Dad” karya  Robert T. Kyosaki. Rich Dad, saat anaknya minta mobil, langsung menanggapinya dengan optimis dan mengajak sang anak membahashow to buy the Car. Susun target, buat rencana kerja, agar kelak bisa beli mobil.
Beda dengan Poor Dad. Tatkala anaknya minta mobil, reaksinya langsung negatif, ”Nak, dulu ayah cuma pakai sepeda Ontel, masakamu mau beli mobil?”
Logiskah Targetnya ?
Untuk menentukan logis atau tidak, pertama kita lihat tujuannya.Tujuan jangka panjangnya adalah swasembada daging sapi, tujuan jangka menengahnya meningkatkan populasi, tujuan jangka Pendek adalah membuat sapi-sapi betina produktif bunting semua.
Kedua, target.  Pemerintah mentargetkan 4 juta ekor sapi betina produktif bunting di tahun 2017. Lalu kita pasti bertanya bBagaimana cara mencapainya? Tentulah harus dibuat Rencana Aksi atau Action Plan , kemudian dibentuk Gugus Tugas (task force) untuk melaksanakan rencana aksi tersebut.
Lalu apa lagi ? Secara umum, setiap sebuah kegiatan pasti perlu dukungan baik software (SDM) maupun hardware (sarana dan prasarana). Kita mulai dengan softwarenya (Jajaran struktural dari eselon satu  sampai dengan pelaksana lapangan). Kita anggap saja semuanya sudah siap baik jumlah (kuantitas), maupun kualitasnya (profesinalisme dan kompetensi).
Siapkah Hardware ?
Data terakhir BPS tahun 2016,  populasi sapi di Indonesia diproyeksikan 16 juta ekor, baik jantan maupun betina, pedet, bakalan, indukan produktif dan indukan tidak produktif. Apakah dari populasi 16 juta itu ada sebanyak 4 juta indukan siap bunting? Perlu dikonfirmasi .
Ketersediaan Sperma. Sapi bunting bisa melalui kawin alam(natural services) atau Kawin suntik (Inseminasi Buatan/IB). Saya menduga 4 juta ekor ini akan dibuntingkan dengan AI/Inseminasi Buatan (IB),  karena kalau melalui kawin alam akan ada banyak kendala karena  lokasi betina nya tersebar dimana-mana.
Kalau melalui IB perlu kesiapan Balai Inseminasi Buatan (BIB) yang menyediakan minimal 2 kali dari jumlah yang akan bunting atau setara dengan 8 juta straw. Sekedar contoh, salah satu farm yang menerapkan program pembibitan, Conception rate yang terbaik baru tercapai 1.5, artinya dari 30 straw, yang bunting sebanyak 20 ekor. Harian Kompas beberapa bulan lalu mempublikasikan produksi semen beku dari Balai IB mencapai 3,75 juta straw/tahun. Lalu bagaimana kesiapan ketersediaan straw untuk 4 juta ekor yang wajib bunting?
Persiapan Membuntingkan Sapi. Tahapan membuntingkan sapi tentunya dimulai dengan mendata jumlah sapi betina produktif yang layak bunting (minimal umur 2 tahun dengan  alat reproduksi sehat) dan  kesiapan petugas Pemeriksa kebuntingan. Kita asumsikan saja, bisa terdata 4 juta ekor sapi betina produktif layak bunting.
Dua tahun lalu dilakukan program pengendalian Gangguan Reproduksi (GangRep), ditetapkan 1,5 juta dosis untuk dilakukan upaya pengendalian (pengobatan) gangguan reproduksi, sekaligus dilanjutkan dengan Gertak Berahi untuk menyukseskan program sapi bunting. Jadi, sebenarnya Upsus Siwab yang sedang dilakukan ini, tidak ada bedanya dengan program dua tahun lalu yang intinya adalah upaya meningkatkan populasi sapi potong.
Apakah sudah ada hasil program yang dilaksanakan dua tahun lalu, dan bagaimana kesimpulan dan sarannya? Kalau kurang berhasil, apa penyebabnya? Agar dalam membuat rencana aksi Upsus Siwab ini, semua penyebab kegagalan bisa diminimalisir.
Banyak ahli di bidang persapian ini mengatakan, kegagalan utama pada upaya membuntingkan sapi adalah faktor pakan. Sapi wajib bunting ini perlu dipersiapkan kondisi tubuhnya dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas pakan.
Pakan untuk seekor sapi dewasa produktif minimal sebanyak DM (Dry Matter) hijauan 5% dari berat badan(BB)/hari. Andai BB rata seekor sapi Upsus 300kg, berarti dibutuhkan 15 kg DM , atau setara dengan 25 kg hijauan dangan kadar air (moister) 40% (rumput segar). Jadi, secara teori, untuk 4 juta ekor sapi selama proses kebuntingan hingga beranak (9bulan 10hari), minimal dibutuhkan hijauan kering 4 juta ekor x 15 (kg/ekor) x 300 (hari masa kebuntingan) setara dengan 18 juta ton hijauan kering atau dengan kombinasi penambahan konsentrat sebagai pendukung kualitas pakan (30% konsentrat, 30% hijauan kering dari 15kg yang dibutuhkan).
Manajemen hijauan (forage management) dalam hal kuantitas, bisa dilakukan dengan melakukan diversifikasi hijauan antara lain  tanaman jagung, pucuk tebu, daun lamtoro, kaliandra, sorghum bahkan jerami. Untuk meningkatkan kualitas pakan bisa dilakukan dengan teknologi pembuatan Hay (dikeringkan!) dan/atau silase (silage!diasamkan).
Tahapan berikutnya adalah cara membuntingkan. Dimulai dengan deteksi berahi melalui pengamatan siklus berahi alamiah, metoda ini murah tapi tidak efektif dan tidak effisien, karena 4 juta ekor yang tersebar dimana-mana . Cara kedua adalah melalui metodaSinkronisasi Oestrus/SO (penyerentakan berahi), dengan menggunakan hormone PGF-2Alfa.
Bagaimana melakukan SO untuk 4 juta ekor, apakah sekaligus atau dibagi beberapa kali ? Per 3 bulan atau perbulan? Kalau per 3 bulan berarti SO dilakukan untuk 1,3juta ekor, kalau per bulan berarti SO untuk 350 ribu ekor.
Berikutnya adalah untuk melakukan SO pasti dibutuhkan hormone PGF-2Alfa itu yang biasanya minimal 2 kali injeksi per kebuntingan atau setara dengan 8 juta dosis untuk membuntingkan 4 juta ekor. Siapkah perusahaan swasta menyediakannya dalam waktu tertentu?
Semoga ulasan ini bisa menambah pembahasan dalam menyukseskan Upsus Siwab.***
sumber: https://olansebastian.blogspot.co.id/2017/02/telaah-kritis-target-empat-juta-sapi.html?m=1




 
0 Comment

Cart  

No products

Shipping Rp‎ 0
Total Rp‎ 0

Cart Check out

Banting Harga

Tdk ada Barang Banting Harga

CEK RESI